Skip to main content

Posts

Mikir itu Jangan Terbolak Balik

Pahamlah saya sekarang mengapa dulu ada pelajaran Logika yang masuk dalam bagian pelajaran Matematika, memang saat belajar dulu mikirnya kok ribet, jalan pikiran kita dibolak balik. Andi laki-laki, Andi berkumis. Ina perempuan maka Ina tidak berkumis. Ayam adalah hewan berkaki dua. Manusia berkaki dua. Manusia bukan hewan. Kira-kira seperti-seperti itu lah pelajaran yang kita dapati dulu dan ini menjadi bagian ujian psikologi ketika kita mau masuk ke perguruan tinggi, masuk ke perusahaan dan mengikuti asesmen ketika sudah menjadi pegawai. Karena Logika Berpikir itu Memang Penting. Mengapa?  Karena saat ini, sering sekali dijumpai, orang-orang yang asbun, asjep, asal bunyi, asal jeplak, seperti kentut. Lepas tanpa rem. Orang lain yang dengar suaranya dan cium baunya hehe. Teringat saat kebetulan Jumatan di Terminal Kampung Rambutan beberapa tahun silam. Khatib di mesjid kecil itu dengan entengnya bilang, "saya pikir yang namanya Pasar Bebas itu kita bebas ambil apa saja di pasar l...

STOP Membeda-bedakan Orang

Sadar tidak sadar seringkali ucapan kita, prilaku kita, gestur kita membeda-bedakan keadaan atau orang lain. Item dikit teman kita, kita tidak mau semobil dengannya. Gaya berpakaian tetangga kita yang menurut kita kampungan aja kita gak mau duduk dekat dengannya, bahkan kalau ada yang sarapan roti kita langsung bilang sarapan bule, kek orang barat nih, seperti meninggikan bule, bangsa barat, sepertinya makanan lokal, sarapan Indonesia lebih rendah atau tidak lebih bergizi dibandingkan makan roti. Walaupun ini hanya sekadar bercanda, ucapan belaka, tetapi tersirat unsur membeda-bedakan makanan, teman dan tetangga kita. Kita seringkali menuduh bahkan mengatakan bahwa bangsa barat cenderung rasis seperti merendahkan orang negro, pendatang dari mexico, bahkan kejadian yang masih hangat terjadi saat ini ketika Presiden AS, Donald Trump, meski tidak menyebut nama secara langsung, dalam kicauannya di twitter Trump meminta sejumlah anggota kongres yang dianggap warga keturunan lebih baik angk...

Warisan Terbesar Dari Orang Tua

Sore itu aku mengambil kue martabak kecil, mirip crepes dari sepupuku yang datang ke rumah. Ternyata dia beli cuma 1 buat dia saja haha aseemm. Dia menawarkan martabak manis yang besar. Ah biasa, untuk crepes ini emang agak jarang dijual di pasar, kebanyakan martabak manis biasa, kue pancung dan lainnya. Sepupuku bilang oh dia sukanya yang tipis ya, crepes itu maksudnya. Iya, persis ayahnya kata mamaku hehe. Sekejap aku terperanjat. Oh ternyata ayahku dulu begitu toh waktu mudanya. Maklum aku sudah 20 tahun meninggalkan kota ini, Medan, kota kelahiranku. Baru 4 tahun ini, sejak ayah sakit menjelang kepergiannya aku pulang kampung dan menetap disini. Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya Selama 4 tahun ini banyak hal yang membuatku terperanjat. Apa yang menjadi kebiasanku, menjadi hobiku, yang sering kulakukan selama ini tak lepas dari kesukaan, kebiasaan dan kelakuan orang tuaku. Ketika sabtu, minggu, liburan ada waktu lowong untuk mengurus tanaman, mamaku bilang seperti ayahku. Suatu k...

Terjebak dalam Frame "Istilah"

"Dasar Batak!!!" "Namanya juga orang Padang, pintar dagang" "Alaahh Jokowi itu kan antek aseng, Cina" "Mana ada Islam Nusantara itu, Islam itu Islam yang diturunkan pada Rasulullah saw" Batak, Padang, Cina, Arab, Nusantara dan lain-lain, begitu lah Istilah yang seringkali kita dengar, kita sebut di kehidupan kita sehari-hari. Atas dasar ketidaktahuan, kebencian, perasaan, kita terjebak dalam istilah-istilah yang kita jeneralisir, kita sama ratakan semua, hanya untuk kesenangan, kepuasan, gampangnya kita aja. Saya sendiri pun sama. Cuma saya berdoa dan berusaha agar saya diberi pengetahuan dan pencerahan agar menjadi tahu. Terlahir dan besar di kota Medan itu merupakan suatu anugerah keragaman. Banyak suku, agama disini. Gak pernah bentrok. Kalau ibukota itu Jakarta tempat berkumpulnya segala macam suku bangsa disana. Medan pun sama, potret kecilnya ibukota. Tidak ada bahasa Medan disini, semua berkomukasi dengan bahasa Indonesia bukan bahas...

Jiwa-jiwa Yang Sakit - 3

Di penghujung Ramadhan ini, sepertinya banyak yang gagal nih mensucikan dirinya, menghapus dosa-dosanya, instrospeksi dirinya. Jelang Lebaran ini pula, kita larut dalam suasana politik, hashtag-hastag atau tagar-tagar baper, terbawa perasaan makin kuat membenam di hati kita. Masalah Tol bikinan Jokowi ramai diperbincangkan. Kita seperti anak TK. Kalau dulu Gus Dur menyindir bahwa Anggota Dewan, DPR, terhormat seperti anak TK, sindiran itu mengena sekali ke anak bangsa saat ini, karena mereka wakil kita. Kita lah yang seperti anak TK itu, childish. Kita sahut-sahutan jelek-jelekin orang lain. Baper. Yang gak suka Jokowi jangan lewat Tol Jokowi. Eh besoknya muncul, mana ada Tol buatan Jokowi. Yang bikin Perusahaan milik Sandiaga Uno. Sejak dulu tidak ada yang klaim Tol Soeharto, Tol SBY, kok sekarang malah ada Tol Jokowi. Trus dilanjut dengan Jalan Tol itu dibuat dengan uang Rakyat, APBN. Diperjelas lagi dengan Pelajaran Bahasa Indonesia, mana ada Tol Jokowi, itu hanya ungkapan seperti K...

Jiwa-jiwa Yang Sakit - 2

Ngabuburit sambil cari-cari jajanan buat buka puasa ramadan itu sungguh mengasyikkan. Penganan masa kecil, nostalgia, yang langka, yang unik seringkali muncul di saat bulan puasa. Aneka ragam makanan minuman mulai dari yang ringan hingga yang berat dijajakan di pinggir jalan atau di lokasi-lokasi tertentu di tiap kota. Bahkan di beberapa tempat bukan hanya kuliner yang dijual, fashion, asesoris, gadget, agen motor mobil ikut meramaikan dagangan jelang buka puasa, seru, ramai, semua merasakan kebahagian berkah ramadan hehehe. Yaa begitulah keunikan negeri ini di saat bulan puasa tiba. Semua bahagia. Berdagang adalah profesi yang mulia dalam Islam. Buktinya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sendiri adalah pedagang dan beliau memuji serta mendoakan para pedagang yang jujur. Melihat banyaknya aktivitas perdagangan terutama usaha-usaha kecil menunjukkan bahwa ekonomi di daerah tersebut hidup. Kita jangan melulu melihat berapa keuntungan yang didapat mereka, apakah cukup buat hidup ap...

Jiwa-jiwa Yang Sakit - 1

Dalam berteman yang namanya senda gurau, bercanda, berantem itu adalah hal biasa. Sering kita ledek-ledekan, tersinggung, marah, trus besoknya baikan lagi. Itu hal lumrah. Berantem sampai ngeselin sekalipun, bahkan sampai maki-maki lalu beberapa lama kemudian baikan lagi, juga hal biasa. Begitulah berteman, baik di lingkungan keluarga, tetangga, sekolah, kampus, bahkan kantor. Kita pasti mengalami hal demikian. Sering kita terbawa emosi, tidak bisa menjaga perasaan, kita menyakiti perasaan teman atau saudara kita, atau memang teman kita itu baperan, mudah tersinggung, gampang merajuk, lalu marah. Namun beberapa waktu kemudian baikan lagi, bercanda lagi, kompak lagi. Namun dari sebegitu banyak kisah pertemanan, ada orang-orang yang berprilaku aneh. Beberapa orang ini punya sifat yang senang membuat susah orang lain. Jika Anita berteman dengan Tesi dan Rubi seperti orang kebanyakan. Namun Anita ntah dengan alasan apa, selalu menyusahkan Tesi. Kisah-kisah seperti bawang putih bawang mer...